Tuesday, September 6, 2011

Mengapa kehadiran pasar di tingkat desa malah mendorong expansi produk perkotaan dan perilaku konsumtif masyarakat desa?

Fred L. Benu 

Teori ekonomi menyebutkan Pasar sebagai suatu institusi ekonomi dimana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi atau tukar-menukar barang dan jasa.  Dalam kemajuan dunia komunikasi saat ini ditandai dengan adanya revolusi di bidang telekomunikasi, maka pasar tidak lagi harus mengambil bentuk fisik dimana dapat ditemukan bangunan fisik, kemudian kontak sisik (face to face) antara penjual dan pembeli.  Konsep pasar sudah dapat dikembangkan dalam suatu dunia maya, dimana penjual dan pembeli tidak saling mengenal secara sosial, tidak pernah berjumpa secara fisik, tapi transaksi tetap berjalan pembeli menerima barang dan penjual menerima balas jasa.

Mari kita mengikuti cerita menarik berikut tentang aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh seorang petani maju (salah seorang kolega saya di Australia).  Petani ini menempatkan dirinya sebagai salah satu dari pelaku pasar modern di mana batas ruang dan waktu semakin tidak jelas.  Beliau seorang petani semangka (rock mellon) di Western Australia.  Sebelum ia mengusahakan semangka, terlebih dahulu ia mengakses internet untuk mencari tahu proyeksi harga semangka yang paling tinggi.  Kapan dan dimana (Negara bagian apa) akan terjadi? Selanjutnya ia mencari informasi dari akses internet yang sama  tentang varietas semangka apa yang harus ia tanam dengan umur pemanenan relatif sama dengan saat harga semangka mencapai puncaknya.  Setelah ia memastikan semua masalah teknis budidaya (juga dari internet) ia memesan benih semangka dari penangkar benih melalui internet sekaligus melakukan pembayaran dengan hanya mengisi ID kartu ATM nya di komputer yang sama.  Pada saat itu pula ia pun menawarkan semangka yang akan diproduksikannya lengkap dengan jumlah, kualitas, ukuran, bahkan warna produk kepada calon pembeli di pasar yang telah diidentifikasinya semula. Semuanya itu dilakukan dalam hitungan waktu kurang dari 30 menit.

Cerita di atas ternyata tidak berlaku pada sektor pertanian lahan kering hampir di seluruh Indonesia. Petani lahan kering hanya mengenai pasar sebagaimana bentuk fisik nya.  Bahkan pasar dalam konsep masyarakat pertanian lahan kering, tidak saja merupakan suatu institusi ekonomi tapi juga institusi sosial.  Pada sejumlah pasar para petani lahan kering hadir tidak saja untuk melakukan fungsi ekonomi pertukaran, tapi banyak juga fungsi sosial berlangsung.  Dan fungsi sosial ini dalam banyak kasus sangat mendominasi dinamika institusi pasar dan sulit untuk diukur nilai ekonominya. Kita dapat mengidentifikasi bagaimana para petani lahan kering tradisional kita hadir di pasar mingguan tingkat desa atau kecamatan dengan hanya membawa sedikit hasil kebun mereka untuk dijual, tapi meluangkan waktu sampai selesainya waktu buka pasar, sambil ngobrol, merokok dan minum bersama dengan sejumlah pihak yang jarang dijumpai karena tinggalnya yang berjauhan maupun karena kesibukan masing-masing. Bahkan tidak jarang sejumlah permasalahan rumit ditingkat masyarakat lahan kering yang tidak dapat ditemukan jalan keluarnya ternyata dapat diselesaikan di pasar. Tidak dapat disangkal juga pasar malah dijadikan tempat untuk menemukan jodoh bagi para muda-mudi tani.

Sadar atau tidak fungsi sosial dimaksud turut menekan dinamika fungsi ekonomi yang menjadi tujuan awal kehadiran sebuah pasar secara fisik di tingkat desa.  Bersamaan dengan kehadiran pasar di tingkat desa ada pula sejumlah produk perkotaan yang masuk ke desa.  Dan daya expansi produk perkotaan ini nampaknya lebih besar dari pada expansi produk perdesaan, karena pertama, produsen perkotaan hadir dengan satu orientasi ekonomi yaitu pertukaran barang dan jasa.  Relatif tidak ada fungsi sosial yang diemban oleh produsen perkotaan, sehingga proses pertukaran produk perkotaan akan lebih efektif dan efisien. Kedua, Kehadiran pasar yang mendorong keterbukaan, tidak disertai dengan kesiapan  masyarakat tani lahan kering untuk menghadapi persaingan yang semakin tinggi.  Hal ini juga yang menyebabkan produk perdesaan harus kalah bersaing dengan produk perkotaan.  Sebut saja jagung, padi, pisang, ubi kayu, dll yang harus kalah bersaing dengan sabun mandi, shampo, lipstick, hair cream, bedak, bahkan sampai hand phone dan barang elektronik lainnya.  Ketiga, dorongan sikap konsumtif masyarakat perdesaan sebagai konsekwensi globalisasi. Masyarakat tani lahan kering perdesaan, sebagaimana juga masyarakat .....cenderung rentan terhadap invasi modernisasi produk masyarakat post modernisasi. Sikap ini pula pada akhirnya mendeterminasi pola hidup konsumtif dengan mengorbankan orientasi saving dan investasi untuk tujuan produktif expansi usaha.

Referensi:



Pengutipan:
Benu, F.L. (2010) Mengapa kehadiran pasar di tingkat desa malah mendorong expansi produk perkotaan dan perilaku konsumtif masyarakat desa? Dialektika Lahan Kering. Diakses pada (isi tanggal, bulan, tahun) dari: www.drylandcare.blogspot.com.




; 0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberikan komnetar maupun masukan untuk memperbaiki tayangan blog ini pada waktu-waktu mendatang

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites